Kontak :

Kantor Pusat

Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta 13550
Tel.: (62-21) 841 3526/3630
Fax.: (62-21) 8401533, 8413540
e-mail: jasmar@jasamarga.com
Webiste: www.jasamarga.com

Jasa Marga Traffic Information Center
(62-21) 8088 0123

  • screen 11
  • screen 12
  • screen 13
  • screen 14
  • screen 15

Laporan Usaha

Sub Menu :

 

Pencapaian Volume Lalu Lintas

Dampak krisis ekonomi global sedikit berpengaruh terhadap bisnis jalan tol. Pengaruh tersebut ditandai dengan penurunan volume lalu lintas kendaraan golongan II sampai dengan V, yang merupakan golongan kendaraan truk dan sejenisnya.
Hal tersebut terjadi khususnya di ruas jalan tol yang menghubungkan kawasan industri. Namun demikian, secara keseluruhan penurunan volume lalu lintas dari kendaraan golongan tersebut dapat tertutupi dengan kenaikan yang signifikan pada jenis golongan kendaraan I yaitu golongan kendaraan jenis penumpang. Sehingga, secara keseluruhan volume lalu lintas kendaraan tetap naik tahun 2009, ditengah kondisi ekonomi sedang dalam proses recovery.

 

Sebagian besar jalan tol yang dimiliki Perseroan telah menjadi jalur utama transportasi strategis bagi pengguna jalan, khususnya di wilayah ibukota Jakarta dan sekitarnya. Berikut adalah peta jaringan jalan tol di wilayah Jakarta dan sekitarnya yang dioperasikan oleh Perseroan:

Volume transaksi lalu lintas tahun 2009 yang melintasi jalan tol yang dikelola Jasa Marga dan Anak Perusahaan mencapai 916,48 juta kendaraan, tumbuh sebesar 4,14% dibanding tahun sebelumnya yang mencapai jumlah 880,06 juta kendaraan. Satu ruas baru yang dikelola oleh Anak Perusahaan yaitu Bogor Ring Road dioperasikan pada tanggal 23 November 2009. Berikut adalah volume transaksi lalu lintas pada ruas-ruas yang dikelola Jasa Marga dan Anak Perusahaan.

Cabang Cawang-Tomang-Cengkareng yang mengelola ruas Jakarta Inner Ring Road dan ruas Prof. Dr. Ir. Sedyatmo (tol Bandara) tercatat sebagai cabang yang paling banyak dilalui kendaraan yakni mencapai 252,13 juta kendaraan, naik 1,19% dibanding tahun sebelumnya sebanyak 249,15 juta kendaraan. Penurunan pada ruas tol Bandara disebabkan oleh adanya penerapan tarif merata dimana pada sistem tersebut volume lalu lintas dihitung satu kali dari sebelumnya dua kali.

 

JARINGAN JALAN TOL DI PULAU JAWA

Pertumbuhan volume lalu lintas tertinggi dicatat oleh Cabang Purbaleunyi yang mengelola ruas Padaleunyi dan Cipularang dengan jumlah kendaraan mencapai 65,26 juta kendaraan, atau naik 19,71% dibanding volume kendaraan tahun sebelumnya sejumlah 54,51 juta kendaraan.
Volume lalu lintas transaksi yang melewati jalan tol Jasa Marga mempunyai musiman dari bulan ke bulan. Berikut adalah tabel volume volume lalu lintas transaksi per bulan.

 

Volume Lalu Lintas Transaksi per Bulan 2009

 

Pendapatan Tol

Pendapatan tol tahun 2009 mencapai Rp3.631,48 miliar, tumbuh sebesar 9,40% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 3.319,34 miliar.

Ruas tol JORR (Jakarta Outer Ring Road) menyumbang pendapatan tertinggi tahun 2009, dengan nilai Rp 735,34 miliar, naik 11,19% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 661,32 miliar.
Penyumbang pendapatan tol kedua terbesar adalah ruas tol Cawang-Tomang-Cengkareng, yang menyumbang pendapatan sebesar Rp715,41 miliar, naik 10,32% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 648,48 miliar.
Secara keseluruhan 74,87% pendapatan tol tahun 2009 berasal dari ruas-ruas yang berada di Jabotabek.

Penambahan Panjang Jalan

Salah satu fokus usaha Perseroan tahun 2009 adalah menambah panjang jalan tol dengan cara mempercepat pengerjaan proyek jalan tol yang dimiliki Perseroan. Hingga akhir 2009, Perseroan mengoperasikan 14 ruas jalan tol dengan panjang 531 km.
Sesuai dengan peran sebagai pengembang jalan tol, Jasa Marga merealisasikan proyek-proyek jalan tol baru melalui anak-anak perusahaan dengan bekerjasama dengan investor lain – swasta atau perusahaan daerah (BUMD). Beberapa proyek jalan tol baru yang dikembangkan tahun 2009 adalah:

*

 

Bogor Ring Road
Bogor Ring Road memiliki panjang 11 kilometer diusahakan oleh Anak Perusahaan PT Marga Sarana Jabar dan dibagi menjadi tiga seksi, yaitu Seksi 1, Sentul-Kedung Halang (3,8 km); Seksi 2, menghubungkan Kedung Halang dan Yasmin (4,2 km); dan Seksi 3, menghubungkan Yasmin dan Darmaga (3 km).

Seksi 1 telah beroperasi tanggal 23 November 2009, berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 585/KPTS/M/2009 tanggal 23 November 2009. Jasa Marga memegang saham sebesar 55% di PT Marga Sarana Jabar dan sisanya 45% oleh PT Jasa Sarana. Investasi tahap I menelan biaya sekitar Rp377 miliar.

Pengoperasian Bogor Ring Road memberikan kemudahan bagi warga Bogor khususnya yang berada di wilayah Utara dan Barat Kota Bogor yang hendak menuju jalan tol Jagorawi. Kehadiran jalan tol Bogor Ring Road ini membantu masyarakat yang tinggal di daerah ini, karena jalur yang ditempuh menuju Jagorawi atau sebaliknya menjadi lebih pendek dan waktu perjalanan pun lebih singkat.

*

 

Semarang-Solo
Ruas Jalan Tol Semarang-Solo dengan panjang 75,7 km dikembangkan oleh PT Trans Marga Jateng. Jasa Marga memiliki saham 60% di Anak Perusahaan ini dan sisanya sebesar 40% dimiliki oleh PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah. Untuk Tahap I (Semarang-Bawen) terbagi dalam 2 seksi, yaitu Seksi 1 Semarang-Ungaran (11,3 km) dan Seksi 2 Ungaran-Bawen (11,8 km). Tahap II Bawen-Solo terdiri dari 3 Seksi, yaitu Seksi 1 Bawen-Salatiga (18,3 km), Seksi 2 Salatiga-Boyolali (25,5 km) dan Seksi 3 Boyolali-Solo (8,8 km).

*

 

Gempol-Pasuruan
Ruas tol Gempol-Pasuruan dengan panjang 34,2 km diusahakan Perusahaan Patungan PT Trans Marga Jatim Pasuruan. Pembangunan Jalan Tol ini dibagi menjadi tiga bagian, yakni seksi 1 Gempol-Rembang (13,9 km), Seksi 2 Rembang-Pasuruan (8,1 km), seksi 3 Pasuruan-Grati (12,2 km). Mayoritas saham Trans Marga Jatim dimiliki oleh Jasa Marga sebesar 60% dan sisanya dipegang oleh PT Jatim Marga Utama (20%) dan Perseroan Daerah Kabupaten Pasuruan 20%.

*

 

JORR W2 Utara
Ruas tol JORR W2 Utara dengan panjang 7,7 km, dikembangkan oleh PT Marga Lingkar Jakarta. Jasa Marga memiliki 65% saham dalam proyek jalan tol ini dan sisanya dimiliki oleh PT Jakarta Marga Jaya sebesar 35%.

Pada tahun 2010, Jasa Marga menargetkan untuk menyelesaikan konstruksi Jalan Tol Semarang-Ungaran (11,3 km) dan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto Seksi 1A Ruas Waru-Sepanjang (2,3 km). Perseroan juga akan menyelesaikan pembebasan lahan dan memulai konstruksi ruas Ungaran-Bawen, Semarang-Solo dan Jalan Tol Kunciran-Serpong.

 

Peningkatan Penyertaan Saham

Sektor jalan tol merupakan sektor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Walaupun demikian, tingkat pertumbuhan dan panjang jalan tol di Indonesia masih rendah. Oleh karena itu, Perseroan yang merupakan pemimpin pasar dalam pengusahaan jalan tol di Indonesia selalu mencari peluang untuk menambah jalan tol dengan tingkat kelayakan baik di dalam portofolionya.

Sehubungan dengan rencana Perseroan untuk meningkatkan aset jalan tol serta meningkatkan pendapatan dan laba Perseroan, maka Perseroan meningkatkan penyertaan saham dan melakukan penambahan modal di beberapa perusahaan serta pengambilan hak opsi untuk menjadi pemegang saham mayoritas:

1

 

PT Marga Kunciran Cengkareng (MKC)
Pada tahun 2009, Jasa Marga meningkatkan penyertaan kepemilikan saham dan menambah modal pada PT Marga Kunciran Cengkareng (MKC), perusahaan pemegang konsesi jalan tol Jakarta Outer Ring Road II (JORR II) ruas Cengkareng-Kunciran. Kepemilikan saham Perseroan di perusahaan ini naik menjadi sebesar 75% dari 20% sebelumnya. Ruas jalan tol Cengkareng-Kunciran memiliki panjang 15,2 km. Pemegang saham lain MKC adalah PT CMS sebesar 20% dan 5% dikuasai oleh PT Wijaya Karya, PT Nindya Karya dan PT Istaka Karya.
Dengan naiknya jumlah modal disetor MKC meningkat menjadi Rp838,7 miliar dari Rp30,0 miliar, maka untuk meningkatkan kepemilikan menjadi 75%, Perseroan menambah modal sebesar Rp629 miliar.

2

 

PT Marga Trans Nusantara (MTN)
Jasa Marga meningkatkan penyertaan kepemilikan saham dan melakukan penambahan modal pada PT Marga Trans Nusantara (MTN) menjadi 60% dari 30% sebelumnya. MTN merupakan pemegang konsesi jalan tol Jakarta Outer Ring Road II (JORR II), ruas Kunciran-Serpong dengan panjang 11,2 km.

Dengan proyeksi jumlah modal disetor MTN meningkat menjadi Rp677,1 miliar dari Rp60,0 miliar, maka untuk meningkatkan penyertaan menjadi sebesar 60%, Perseroan menyetorkan tambahan modal sehingga menjadi sebesar Rp406,3 miliar yang pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan proyek ruas jalan tol.

3

 

PT Marga Nujyasumo Agung (MNA)
PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) merupakan perusahaan pemegang konsesi jalan tol ruas Surabaya-Mojokerto dengan panjang 36,3 km. Awal 2009, Jasa Marga meningkatkan kepemilikan saham pada MNA menjadi sebesar 55% dari 1,7% sebelumnya. Pemegang saham lain MNA adalah PT Wijaya Karya dengan kepemilikan sebesar 20% dan PT Moeladi sebesar 25%.

Dengan proyeksi jumlah modal disetor meningkat menjadi sebesar Rp958,8 miliar dari Rp330,0 miliar, maka untuk menambah penyertaannya menjadi sebesar 55%, Perseroan menyetorkan tambahan modal sehingga menjadi sebesar Rp527,3 miliar yang pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan proyek ruas jalan tol.

Pengerjaan proyek ini dibagi menjadi empat seksi; Seksi 1A Waru-Sepanjang (2,3 km), Seksi 1B Sepanjang-WRR (4,3 km), Seksi II WRR-Driyorejo (5,1 km) dan Seksi III Driyorejo-Krian (6,1 km) dan seksi IV Krian-Mojokerto (18,5 km)

4

 

PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB)
Perseroan juga melakukan penyertaan saham dan pengambilan hak opsi menjadi pemegang saham mayoritas pada PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB), pemegang konsesi jalan tol Jakarta Outer Ring Road W1 (JORR W1), ruas Kebon Jeruk-Penjaringan.

Per tanggal 30 September 2008, Perseroan tidak memiliki penyertaan pada JLB, dan pada tahap awal Perseroan memiliki penyertaan saham pada JLB melalui pemasukan aset Perseroan (simpang susun Penjaringan) ke JLB. Berdasarkan perjanjian penyertaan saham pada JLB tanggal 4 Februari 2009, Perseroan telah melakukan penyertaan pada JLB dengan cara inkind berupa bangunan Simpang Susun (interchange) Penjaringan dengan nilai penyertaan sebesar Rp180,63 miliar, atau setara dengan 23% penyertaan dari total saham ditempatkan.

Pada tahun 2010, Perseroan memiliki hak opsi untuk menjadi pemegang saham mayoritas apabila calon pemegang saham lain tidak memenuhi kewajiban penyetoran saham. Untuk mengambil hak opsi tersebut, Perseroan akan melakukan penyetoran tambahan modal sebesar-besarnya sejumlah Rp220,0 miliar dengan cara pembelian saham pemegang saham lain dan pengambilan saham baru dengan total menjadi sebesar Rp400,6 milyar dari sebelumnya Rp180,6 miliar untuk menguasai kepemilikan saham menjadi sebesar 51% pada JLB.

Dengan meningkatkan kepemilikan saham di MKC, MTN dan JLB, Perseroan mengambil peluang usaha jalan tol di daerah Jakarta dan sekitarnya, terutama daerah Cengkareng, Serpong, Kebon Jeruk, Daan Mogot dan sekitarnya.

Saat ini lalu lintas dari dan menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta sebagian besar melalui akses Jalan Tol Dalam Kota dan Jalan Tol Sedyatmo (Bandara), sehingga pelayanan jalan tol menjadi tidak optimal. Jalan tol MKC (ruas Cengkareng-Kunciran) dan MTN (ruas Kunciran-Serpong) dibangun untuk menambah alternatif akses para pengguna jalan dari dan menuju Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Hal ini sekaligus akan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pengguna Jalan Tol Dalam Kota dan pengguna jalan tol yang akan menuju kota Tangerang.

Di samping itu, dengan meningkatkan kepemilikan tersebut, Perseroan memanfaatkan peluang dari tingginya pertumbuhan industri di daerah Cengkareng, Tangerang dan sekitarnya serta meningkatkan pertumbuhan daerah komersial perumahan di daerah Serpong dan Kunciran, yang saat ini hanya dilayani oleh Jalan Tol Jakarta-Tangerang.

Peningkatan saham di ketiga ruas tersebut sejalan dengan peningkatan sinerji dengan jaringan jalan tol Perseroan yang ada saat ini, yaitu jalan tol Sedyatmo, Jakarta-Tomang dan JORR. Proyek jalan tol ruas Cengkareng-Kunciran dan ruas Kunciran-Serpong dan ruas Kebon Jeruk-Penjaringan akan mendukung terintegrasinya jaringan jalan tol di Jakarta dan sekitarnya. Sinerji yang diperoleh adalah peningkatan bisnis (economies of scope) dan skala ekonomis (economies of scale) Perseroan.

Sementara itu, peningkatan penyertaan saham di MNA menjadi mayoritas bertujuan untuk mengambil peluang usaha jalan tol di daerah Surabaya, Mojokerto dan sekitarnya dan alternatif akses dari barat kota Surabaya menuju Bandar Udara Juanda dan Pelabuhan Laut Tanjung Perak Surabaya.

Pertumbuhan lalu lintas jalan tol ruas Surabaya-Mojokerto diharapkan akan tinggi seiring dengan meningkatnya pertumbuhan industri di daerah Waru, Driyorejo dan Krian, serta meningkatnya daerah komersial dan jumlah perumahan di daerah Mojokerto.

Jasa Marga hanya meningkatkan penyertaan saham menjadi mayoritas hanya pada ruas-ruas yang layak serta mengutamakan ruas jalan tol baru yang terhubung dengan jalan tol yang sudah beroperasi yang dimiliki Jasa Marga atau Anak Perusahaan. Sehingga mampu bersinerji dan meningkatkan volume lalu lintas jalan tol yang sudah beroperasi dan jalan tol baru.

Alasan peningkatan penyertaan di perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:

*

Pemenuhan Visi dan Misi Perseroan untuk tetap mempertahankan posisi Perseroan sebagai pemimpin dalam industri jalan tol di Indonesia dan target pertumbuhan pendapatan yang signifikan dalam lima tahun ke depan;

*

Mengingat lokasi empat jalan tol tersebut (MKC, MTN, JLB and MNA) berada di wilayah kota-kota terbesar di Indonesia, yakni di Jakarta dan Surabaya, diharapkan akan meningkatkan nilai (value) Perseroan;

*

Perpanjangan jalan tol Perseroan akan meningkatkan efisiensi pengoperasian jalan tol, diantaranya melalui pendistribusian SDM yang ada ke ruas jalan tol baru sehingga meningkatkan rasio produktivitas SDM Perseroan. Penambahan panjang jalan tol ini juga akan menambah skala ekonomi Perseroan.

*

Adanya kebijakan Pemerintah di dalam proses pembebasan tanah seperti Dana Bergulir BLU (revolving fund) dan land capping fund yang akan mendukung dan mempercepat proses pembangunan jalan tol.

Peningkatan penyertaan saham di beberapa perusahaan tersebut akan memberi manfaat baik langsung maupun tidak langsung pada usaha Perseroan. Manfaat yang diperoleh Perseroan antara lain:

*

Peningkatan pendapatan
Peningkatan kepemilikan akan meningkatkan pendapatan Perseroan dengan melihat potensi kepadatan lalu lintas dari dan ke pusat komersial, industri dan perumahan di daerah-daerah; (i) Serpong dan Kunciran (Tangerang); (ii) Kebon Jeruk dan Penjaringan (Jakarta); (iii) Surabaya dan Mojokerto (Jawa Timur), serta tingginya aktivitas di: 1) Pelabuhan Laut Tanjung Perak dan Bandar Udara Juanda Surabaya.

*

Peningkatan keunggulan bersaing Perseroan
Peningkatan kepemilikan menjadi mayoritas akan meningkatkan keunggulan bersaing Perseroan dengan penambahan penguasaan jalan tol yang potensial dan peningkatan kekuatan posisi keuangan Perseroan

*

Peningkatan investasi Perseroan di aset-aset yang berkualitas
Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan pemegang konsesi jalan tol di kota besar, yaitu Jakarta dan Surabaya, yang juga merupakan pusat ekonomi Indonesia. Tingginya tingkat hunian dan pertumbuhan ekonomi, industri dan komersial di kota besar tersebut akan mendorong kebutuhan sarana infrastruktur jalan tol dan potensi pertumbuhan volume lalu lintas yang tinggi. Sehingga diharapkan ruas jalan tol yang baru tersebut dapat menjadi aset Perseroan yang berkualitas dengan tingkat kelayakan investasi yang tinggi. dengan penambahan penguasaan jalan tol yang potensial dan peningkatan kekuatan posisi keuangan Perseroan

*

Peningkatan kualitas pelayanan kepada pengguna jalan tol
Peningkatan penyertaan pada anak perusahaan tersebut membantu meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jalan tol Perseroan sebagai jalan tol alternatif bagi pengguna jalan yang menuju dan dari Bandara maupun pelabuhan laut. Ruas jalan tol tersebut akan memperbesar kapasitas jaringan transportasi dan meningkatkan kelancaran jaringan jalan tol yang sudah ada. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan yang merupakan salah satu faktor pendukung Perseroan untuk memperoleh persetujuan kenaikan tarif jalan tol setiap dua tahun sekali.

*

Peningkatan sinerji usaha dengan jalan-jalan tol yang ada
Dengan beroperasinya ruas jalan tol yang dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan tersebut, Perseroan akan memperoleh manfaat peningkatan sinerji usaha, khususnya sinerji pendapatan dan sinerji efisiensi biaya, dengan jaringan jalan tol yang ada, termasuk dengan Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, Jalan Tol Jakarta-Tangerang dan Jalan Tol Cawang-Tomang-Cengkareng (Jalan Tol Dalam Kota)

*

Peningkatan kapasitas keuangan
Seiring dengan meningkatnya pendapatan, penambahan investasi Perseroan di jalan tol tersebut akan meningkatkan kas dan EBITDA Perseroan di masa depan, yang merupakan kapasitas keuangan Perseroan. Hal ini penting, karena kapasitas keuangan Perseroan mempengaruhi kapasitas pinjaman Perseroan yang sehat (sustainable debt level) untuk mendukung pertumbuhan investasi dan usaha Perseroan di masa depan.

Penurunan risiko usaha Perseroan dengan diversifikasi usaha aset

Dengan bertambahnya aset berkualitas Perseroan, diharapkan investasi Perseroan makin terdiversifikasi sehingga menurunkan risiko usaha.

 

Usaha Non-Toll

Selain dari menambah jalan tol, Perseroan mengembangkan usaha lain dengan mengkapitalisasi aset-aset yang dimiliki seperti penyewaan lahan, pengembangan rest area, menawarkan space pemasangan iklan, serta jasa pengoperasian jalan tol pihak lain. Tahun lalu usaha lain-lain ini menyumbang pendapatan sebesar Rp 42,01 miliar, naik dari Rp 31,76 milar pada tahun sebelumnya. Sampai akhir 2009, Perseroan telah membangun enam tempat istirahat (rest area), empat di antaranya berada di ruas Jakarta-Cikampek, satu di Bandung dan satu di Tangerang. Rencananya Perseroan akan membangun 14 tempat istirahat lagi di lokasi berbeda.

Terkait pengoperasian jalan tol pihak lain, tahun 2009, Jasa Marga dipercayai oleh Pemerintah untuk mengoperasikan Jembatan Suramadu selama 18 bulan dengan fee sebesar Rp 10,8 miliar. Jembatan Suramadu, dengan panjang 5,4 kilometer, menghubungkan Surabaya dan Madura. Jembatan ini menjadi prasarana yang memudahkan transportasi Jawa dan Madura sebagai alternatif menggunakan sarana ferry selama ini. Dengan mengoperasikan Jembatan Suramadu, Jasa Marga turut berpartisipasi dalam memajukan ekonomi masyarakat Jawa Timur, sehingga pada akhirnya memberi kontribusi positif pada ekonomi nasional.

Tentu saja merupakan suatu pencapaian dan kebanggaan tersendiri bagi Jasa Marga untuk menjadi operator pada proyek infrastruktur yang spektakuler dan telah lama ditunggu-tunggu oleh bangsa Indonesia ini. Untuk itu, Jasa Marga berkomitmen untuk membayar kepercayaan yang diberikan Pemerintah dengan memberikan layanan terbaiknya kepada masyarakat pengguna jalan tol.

Pembangunan Jembatan Suramadu menelan biaya Rp4,5 triliun yang bersumber dari pinjaman luar negeri, APBN dan APBD Jawa Timur. Pembangunan dimulai sejak tahun 2003 melalui Keppres 79/2003. Pengoperasian jembatan Suramadu ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 10 Juni 2009. Di samping memberikan kontribusi pendapatan, penunjukkan Jasa Marga juga menunjukkan kepercayaan Pemerintah terhadap pengalaman dan kemampuan yang dimiliki Jasa Marga.