Kontak :

Kantor Pusat

Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta 13550
Tel.: (62-21) 841 3526/3630
Fax.: (62-21) 8401533, 8413540
e-mail: jasmar@jasamarga.com
Webiste: www.jasamarga.com

Jasa Marga Traffic Information Center
(62-21) 8088 0123

  • screen 6
  • screen 7
  • screen 8
  • screen 9
  • screen 10

Strategi di Tahun 2009 :

Sub Menu :

 

STRATEGI PENGEMBANGAN

Bisnis inti Jasa Marga adalah pengembang dan pengoperasi jalan tol. Jasa Marga konsisten untuk menjadi market leader dalam industri jalan tol dengan memfokuskan usaha pada penambahan panjang tol yang ada melalui pembangunan jalan-jalan tol baru yang terkoneksi dengan jalan tol yang beroperasi. Pembangunan jalan tol baru yang terkoneksi memberikan sinergi pertumbuhan yang lebih baik pada jalan tol yang lama dan memberikan jaminan adanya volume lalu lintas yang mendukung kelayakan proyek pada jalan tol baru tersebut.

Sesuai Undang Undang Jalan No.: 38 tahun 2004, setiap jalan tol baru harus dibangun dan dikelola oleh satu perusahaan yang dibentuk khusus. Untuk jalan-jalan tol baru, Jasa Marga bekerjasama dengan mitra strategis, dan/atau perusahaan milik Pemerintah Daerah (BUMD). Pada anak perusahaan pengelola jalan tol baru tersebut, Jasa Marga menjadi pemegang saham mayoritas agar dapat berperan sebagai pengendali dalam percepatan pengoperasian jalan tol.

Strategi lain dalam menambah panjang jalannya adalah mengakuisisi ruas-ruas baru yang potensial, yang pemegang konsesinya memiliki hambatan untuk membangun jalan tol tersebut, terutama jalan tol yang terletak di kota-kota besar yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan yang terhubung dengan jalan tol existing Jasa Marga/Anak Perusahaan.
Untuk usaha yang terkait dengan pengoperasian jalan tol, selain usaha untuk meningkatkan kontribusi pendapatan melalui usaha yang telah berjalan, Jasa Marga juga menerapkan strategi untuk mengoptimalkan aset-aset yang ada. Hal ini dilakukan dengan mengkapitalisasi lahan yang ada menjadi area komersil, seperti properti atau jaringan fiber optik. Kerjasama usaha non tol ini dilakukan dengan melibatkan mitra kerjasama.

STRATEGI OPERASIONAL

Dari sisi operasional, pelayanan difokuskan untuk memberikan jasa layanan tol yang modern dan berkualitas. Hal tersebut dilakukan Jasa Marga melalui peralihan dari sistem yang berbasis SDM (human-based) menjadi berbasis teknnologi (technology-based), yaitu penerapan sistem transaksi elektronik dengan menggunakan e-Toll Card. Penerapan Gardu Tol Otomatis (GTO) dilakukan untuk mendukung penerapan e-Toll Card tersebut. GTO di khususkan bagi pengguna jalan tol golongan I (kategori kendaraan non bus) yang menggunakan e-Toll Card untuk melakukan transaksi di tol. Penerapan sistem transaksi elektronik tersebut memberikan layanan transaksi yang lebih cepat serta memberikan kemudahan bagi pengguna jalan tol dengan tidak diperlukannya uang tunai dalam bertransaksi. Selain itu, Jasa Marga menerapkan sistem informasi dan komunikasi pelayanan lalu lintas terpadu dan efektif, dengan mengintensifkan pemantauan kondisi lalu lintas secara real-time melalui kamera CCTV (closed-circuit television), mempercepat proses mendapatkan informasi terkait kondisi lalu lintas secara real time melalui rambu elektronik Variable Message Sign (VMS) dan Pusat Informasi Lalu Lintas Jasa Marga, sehingga response time bagi petugas di lapangan dan informasi yang  disampaikan kepada pengguna jalan tersedia dengan cepat, akurat dan real time. Selain itu pembakuan standard operating procedure (SOP) mengenai seluruh aspek pelayanan mulai dari aspek keamanan, kelancaran arus lalu lintas serta perawatan dan pemeliharaan jalan tol dilakukan Jasa Marga untuk mendukung komitmennya terhadap peningkatan pelayanan kepada pengguna jalan tol.

Strategi terkait pemeliharaan jalan tol difokuskan pada penerapan sistem kontrak berdasarkan kinerja dengan jaminan minimum 2 (dua) tahun, pelaksanaan peningkatan kapasitas jalan tol, penataan lingkungan jalan tol sesuai karakteristik masing-masing ruas jalan tol serta penambahan lajur jalan tol yang kapasitasnya sudah mendekati 0,8 dan memiliki lahan yang memadai.

Untuk menunjang strategi-strategi di atas, Jasa Marga menjalankan berbagai kebijakan yang terkait dengan pendanaan dan manajemen organisasi sebagai fungsi pendukung untuk menjalankan strategi usaha. Dalam hal pendanaan, Jasa Marga tidak berhutang dalam valuta asing (valas) karena pendapatan Perseroan semuanya dalam rupiah, dengan demikian Perseroan terhindar dari setiap gejolak mata uang. Sumber dana Perseroan berasal dari arus kas internal (pendapatan tol) serta sumber eksternal yang dicari dari sumber yang paling efisien dari segi biaya dan penarikannya pun sesuai dengan kebutuhan. Sumber dana eksternal berasal dari pasar modal, perbankan dan pasar uang. Setelah jalan tol baru beroperasi hutang Bank akan di-refinance dengan hutang jangka panjang lainnya yaitu dengan menerbitkan obligasi yang mempunyai tenor lebih panjang.
Disamping itu, dana idle ditempatkan secara selektif dengan hasil yang optimal melalui penempatan dana pada instrumen portofolio yang aman, seperti deposito.

Strategi di bidang organisasi dilakukan dengan menjadikan Kantor Pusat sebagai Investment Holding Company sementara Anak Perusahaan/Kantor Cabang sebagai SBU (Strategic Business Unit). Dengan strategi tersebut sebagian besar wewenang operasional yang ada di Kantor Pusat didelegasikan ke kantor Cabang/Anak Perusahaan sehingga proses pengambilan keputusan dapat menjadi lebih efisien dan efektif. Setiap SBU didorong untuk menjadi organisasi yang memiliki knowledge capital. Jasa Marga terus-menerus melakukan pelatihan dan pengembangan seperti mengikutkan karyawan pada pelatihan-pelatihan yang mengarah pada pembentukan sikap yang berkinerja prima, memberikan pelatihan kepemimpinan yang berorientasi pada kepemimpinan bisnis dan teknis,  meningkatkan frekuensi pelatihan GCG,  mengembangkan program pelatihan yang membangun budaya kerja yang kompetitif secara berkesinambungan.
Sebagai upaya untuk mendorong karyawan untuk terus berkarya, Perseroan menerapkan sistem remunerasi berdasarkan kompetensi yang dikaitkan dengan kinerja serta standar yang berlaku di industri (best industry practices). Evaluasi dan perbaikan sistem pengelolaan SDM dilakukan secara terus-menerus sehingga kinerja karyawan terus meningkat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja operasional Perseroan.

Perseroan menerapkan strategi manajemen mutu dengan menggunakan kriteria Malcolm Baldridge untuk memastikan mutu dan proses kerja Perseroan serta membangun budaya mutu 5Q (Quality of Safety, Quality of Time, Quality of Attitude, Quality of Product & Quality of Cost) dengan kerangka dasar ISO 9001:2000 serta mengembangkan sumber daya mutu sesuai dengan ISO 9001, QCC, SSP sehingga Pelayanan Prima secara intensif dan terintegrasi dapat tercipta. Disamping itu, Perseroan terus-menerus membangun budaya K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dengan mengadopsi standar OHSAS:18001.
Penerapkan strategi-strategi tersebut pada akhirnya mendorong peningkatan pendapatan, pelayanan menjadi lebih aman dan nyaman serta penurunan biaya sehingga pada akhirnya meningkatkan nilai Perseroan.

 

SEKILAS JASA MARGA

Didirikan 01 Maret 1978, Perseroan adalah perintis penyelenggaraan jalan tol di Indonesia. Dengan pengalaman selama 32 tahun, Perseroan tetap menjadi pemimpin pasar di industri jalan tol di Tanah Air. Jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) merupakan jalan tol pertama Perseroan dan merupakan tonggak sejarah bagi pengembangan industri jalan tol di Tanah Air. Hingga saat ini Perseroan telah mengoperasikan 531 km jalan tol atau 76% dari total panjang jalan tol di Tanah Air.

Pada era tahun 1980-an, berbagai jalan tol lain dibangun Jasa Marga bersama Pemerintah. Kemudian, pada dasawarsa 1990-an, Jasa Marga lebih lebih diperankan sebagai Lembaga Otoritas untuk memfasilitasi investor-investor swasta yang ternyata sebagian besar gagal mewujudkan proyeknya. Sesuai peraturan yang berlaku saat itu, Jasa Marga mengambil alih dan meneruskan proyek-proyek jalan tol tersebut, seperti JORR dan Cipularang. Pada tahun 2004 Jasa Marga berhasil memenangkan 3 (tiga) konsesi baru yaitu Bogor Ring Road, Semarang-Solo, Gempol-Pasuruan dan 2 (dua) ruas JORR 2 (Cengkareng-Kunciran dan Kunciran-Serpong) pada tahun 2007. Dua ruas tol baru lainnya yaitu Surabaya-Mojokerto dan JORR W2 Utara menambah jumlah ruas tol yang dimiliki Perseoan. Saat ini Perseroan sedang membangun 7 (tujuh) ruas tol baru dengan panjang sekitar 200 km, yang diharapkan dapat beroperasi secara bertahap antara 2009-2013.

Perseroan telah melalui berbagai peristiwa penting dan perubahan dalam perjalanannya. Pada awal berdirinya, Perseroan berperan tidak hanya sebagai operator, tetapi juga memikul tanggung jawab sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Tahun 2004, peran otorisator dikembalikan kepada Pemerintah dengan dikeluarkannya Undang Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan. Peran otorisator dilaksanakan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Sebagai konsekuensinya, Jasa Marga menjalankan fungsi sepenuhnya sebagai sebuah perusahaan pengembang dan operator jalan tol dengan berorientasi pada kaidah-kaidah korporasi.

Perubahan ini mendorong Perseroan untuk lebih fokus dalam mengembangkan bisnis jalan tol, mulai dari perencanaan, pembangunan hingga pengoperasian jalan tol. Perseroan pun semakin mendapatkan kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama investor karena Perseroan dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatkan nilai Perseroan.
Perubahan peran ini juga menjadi basis transformasi Perseroan untuk mencapai visinya yakni menjadi perusahaan jalan tol yang modern dan menjadi pemimpin di industrinya. Sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja, Perseroan mencatatkan 30% sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang kini menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 12 November 2007. Dengan demikian statusnya pun berubah dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang seluruh sahamnya dimiliki Negara menjadi perusahaan BUMN terbuka yang 30% sahamnya dimiliki publik. Dengan harga perdana sebesar Rp 1,700 per lembar, Perseroan memperoleh dana segar sebesar Rp 3.4 triliun. Dana tersebut dipakai untuk pengembangan lima ruas jalan tol, yaitu, Bogor Ring Road, Semarang-Solo, Gempol-Pasuruan, Serpong-Kunciran dan Kunciran-Cengkareng, serta menyelesaikan JORR (Jakarta Outer Ring Road) W2 Utara yang merupakan bagian dari ruas JORR.
Sebagai perusahaan terbuka, Perseroan terdorong untuk terus meningkatkan kinerjanya serta memiliki komitmen untuk memuaskan seluruh pemangku kepentingannya, yaitu antara lain pemegang saham, Pemerintah, pengguna jalan tol dan masyarakat umum. Untuk menjaga kepercayaan pemangku kepentingan, Perseroan memiliki komitmen untuk menerapkan praktik tata kelola yang baik (good corporate governance).

 

Visi & Misi PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Visi
Menjadi Perusahaan modern dalam bidang pengembangan dan pengoperasian jalan tol, menjadi pemimpin (leader) dalam industri jalan tol dengan mengoperasikan mayoritas jalan tol di Indonesia, serta memiliki daya saing yang tinggi di tingkat Nasional dan Regional.

Misi
Menambah panjang jalan tol secara berkelanjutan, sehingga Perusahaan menguasai paling sedikit 50% panjang jalan tol di Indonesia dan usaha terkait lainnya, dengan memaksimalkan pemanfaatan potensi keuangan Perusahaan serta meningkatkan mutu dan efisiensi jasa pelayanan jalan tol melalui penggunaan teknologi yang optimal dan penerapan kaidah-kaidah manajemen Perusahaan modern dengan tata kelola yang baik.

 

 

Peristiwa Penting di Tahun 2009

30 Januari
Empat operator jalan tol yang terdiri dari Jasa Marga, CMNP, BSD dan MMS bekerjasama dengan Bank Mandiri meluncurkan sistem transaksi pembayaran tol yang dilakukan secara elektronik atau Electronic Toll Card (e-Toll Card) sebagai upaya meningkatkan pelayanan transaksi di gerbang tol sehingga transaksi akan semakin mudah dan lebih cepat.
31 Januari
Pencanangan pembangunan jalan bebas hambatan Semarang-Solo oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo di Kelurahan Kramas, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
03 Februari
Penandatanganan Kontrak Manajemen antara Direksi dengan masing-masing Kepala Cabang dan PT Jalantol Lingkarluar Jakarta (JLJ), sebagai tolok ukur keberhasilan dari masing-masing Cabang dan Anak Perusahaan.
18 Februari
Penandatanganan Nota Kesepakatan dengan para pemegang saham PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) yang merupakan perusahaan yang memiliki konsesi Jalan Tol Surabaya-Mojokerto, dalam rangka restrukturisasi MNA untuk merubah komposisi kepemilikan saham di MNA menjadi Jasa Marga 55%, PT Wijaya Karya (Persero) 20% dan keluarga Moeladi 25% dimana sebelumnya saham Jasa Marga pada konsorsium MNA adalah sebesar 1,7%.
25 Februari
Dalam rangka menyambut HUT Jasa Marga ke-31 diadakan Lomba Pelayanan Lalu Lintas (Yanlalin) 2009 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, yang diikuti oleh sembilan Kantor Cabang dan PT JLJ sebagai sarana bertukar informasi dan pengalaman dalam hal pelayanan lalu lintas di jalan tol dan bertujuan memotivasi para peserta untuk meningkatkan kreativitas, kemampuan dan profesionalisme dalam melaksanakan tugas sehingga dapat memberikan pelayanan terbaik bagi pengguna jalan.
02 Maret
Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) Jalan Tol Kunciran-Cengkareng sepanjang 15 km yang dikelola PT Marga Kunciran Cengkareng dimana Jasa Marga akan menjadi pemegang saham mayoritas. Jalan Tol Kunciran-Cengkareng merupakan bagian dari jaringan JORR2 yang tersambung dengan ruas Serpong-Kunciran yang dimiliki oleh PT Trans Marga Nusantara dimana Jasa Marga merupakan pemegang saham mayoritas.
04 Maret
Pengobatan Gratis di sepuluh lokasi yang tersebar di sekitar jalan tol di seluruh Indonesia sebagai salah satu bentuk kepedulian Jasa Marga terhadap masyarakat di sekitar jalan tol. Acara yang digelar secara serentak bagi sekitar 5.000 penduduk yang ada di sekitar jalan tol ini menyerap dana sekitar Rp 310 juta yang bersumber dari dana PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) Jasa Marga.
25 Maret
RUPS Luar Biasa Jasa Marga di Grand Ballroom The Dharmawangsa, Jakarta diantaranya guna mendapatkan persetujuan untuk melakukan Transaksi Material dalam rangka peningkatan penyertaan kepemilikan saham Perseroan dan peningkatan tambahan modal pada PT Marga Kunciran Cengkareng, PT Marga Trans Nusantara, PT Marga Nujyasumo Agung dan penyertaan saham dan pengambilan hak opsi pada PT Jakarta Lingkar Baratsatu.
29 April
Jasa Marga meraih penghargaan Investor Awards Best Listed Companies 2009 Sektor Infrastruktur. Penghargaan yang diselenggarakan Majalah Investor tersebut diterima Direktur Keuangan Jasa Marga di Intercontinental Mid Plaza Ballroom, Jakarta.
28 Mei
RUPS Tahunan di Grand Ballroom The Dharmawangsa, Jakarta yang membicarakan lima agenda, diantaranya guna mendapatkan Persetujuan atas Laporan Tahunan Perseroan Tahun 2008 dan Pengesahan Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun 2008 dan Laporan Tahunan Pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Tahun Buku 2008.
29 Mei
Jasa Marga ditetapkan sebagai Pemenang Tender Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan Tol Jembatan Suramadu, melalui SK Menteri Pekerjaan Umum kepada Panitia Pelelangan Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan Tol Jembatan Suramadu No.: KU.03.01-Mn/315 tanggal 29 Mei 2009.
27 Juli
Penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Tahun 2009-2011 antara Manajemen Jasa Marga dengan Serikat Karyawan Jasa Marga (SKJM) di Jakarta, dihadiri oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
24 Agustus
Penandatanganan pembentukan perusahaan patungan PT Marga Lingkar Jakarta untuk Pembangunan Jalan Tol JORR W2 Utara (Ulujami-Kebon Jeruk).
26 Agustus
Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI tentang Rencana Kenaikan Tarif Tol.
01 September
Wakil Presiden Boediono mengunjungi proyek pembangunan Jalan Tol Bogor Ring Road Seksi I dalam rangka mengunjungi beberapa proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan mengingat pentingnya peran infrastruktur, termasuk jalan tol, bagi kemajuan dan perkembangan ekonomi nasional.
28 September
Penyesuaian tarif untuk sebelas ruas jalan tol Jasa Marga sesuai SK Menteri Pekerjaan Umum No.: 514/KPTS/M/2009 tanggal 31 Agustus 2009 dan perubahan sistem transaksi di Ruas Jalan Tol Sedyatmo menjadi sistem terbuka dengan tarif merata.
09 Oktober
Investor Gathering di Rumah Maroko, Jakarta dihadiri oleh Direksi, Komisaris dan pejabat Jasa Marga dengan mengundang para analis, fund manager dan investor.
19 Oktober
Uji coba Gardu Tol Otomatis (GTO) untuk melayani pengguna jalan tol yang menggunakan e-Toll Card di Gerbang Tol Cililitan, sebagian bagian dari upaya meningkatkan pelayanan transaksi bagi pengguna jalan tol.
4 November
Rapat Umum Pemegang Obligasi di Hotel Bumi Karsa Bidakara, untuk meminta persetujuan pengunduran diri PT Bank Permata Tbk. selaku wali amanat obligasi Jasa Marga Seri Q tahun 2006, dengan tingkat bunga tetap dan penunjukkan PT Bank Mega Tbk. sebagai wali amanat pengganti.