Kontak :

Kantor Pusat

Plaza Tol Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta 13550
Tel.: (62-21) 841 3526/3630
Fax.: (62-21) 8401533, 8413540
e-mail: jasmar@jasamarga.com
Webiste: www.jasamarga.com

Jasa Marga Traffic Information Center
(62-21) 8088 0123

  • screen 6
  • screen 7
  • screen 8
  • screen 9
  • screen 10

Strategi di Tahun 2009 :

Sub Menu :

 

STRATEGI PENGEMBANGAN

Bisnis inti Jasa Marga adalah pengembang dan pengoperasi jalan tol. Jasa Marga konsisten untuk menjadi market leader dalam industri jalan tol dengan memfokuskan usaha pada penambahan panjang tol yang ada melalui pembangunan jalan-jalan tol baru yang terkoneksi dengan jalan tol yang beroperasi. Pembangunan jalan tol baru yang terkoneksi memberikan sinergi pertumbuhan yang lebih baik pada jalan tol yang lama dan memberikan jaminan adanya volume lalu lintas yang mendukung kelayakan proyek pada jalan tol baru tersebut.

Sesuai Undang Undang Jalan No.: 38 tahun 2004, setiap jalan tol baru harus dibangun dan dikelola oleh satu perusahaan yang dibentuk khusus. Untuk jalan-jalan tol baru, Jasa Marga bekerjasama dengan mitra strategis, dan/atau perusahaan milik Pemerintah Daerah (BUMD). Pada anak perusahaan pengelola jalan tol baru tersebut, Jasa Marga menjadi pemegang saham mayoritas agar dapat berperan sebagai pengendali dalam percepatan pengoperasian jalan tol.

Strategi lain dalam menambah panjang jalannya adalah mengakuisisi ruas-ruas baru yang potensial, yang pemegang konsesinya memiliki hambatan untuk membangun jalan tol tersebut, terutama jalan tol yang terletak di kota-kota besar yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan yang terhubung dengan jalan tol existing Jasa Marga/Anak Perusahaan.
Untuk usaha yang terkait dengan pengoperasian jalan tol, selain usaha untuk meningkatkan kontribusi pendapatan melalui usaha yang telah berjalan, Jasa Marga juga menerapkan strategi untuk mengoptimalkan aset-aset yang ada. Hal ini dilakukan dengan mengkapitalisasi lahan yang ada menjadi area komersil, seperti properti atau jaringan fiber optik. Kerjasama usaha non tol ini dilakukan dengan melibatkan mitra kerjasama.

STRATEGI OPERASIONAL

Dari sisi operasional, pelayanan difokuskan untuk memberikan jasa layanan tol yang modern dan berkualitas. Hal tersebut dilakukan Jasa Marga melalui peralihan dari sistem yang berbasis SDM (human-based) menjadi berbasis teknnologi (technology-based), yaitu penerapan sistem transaksi elektronik dengan menggunakan e-Toll Card. Penerapan Gardu Tol Otomatis (GTO) dilakukan untuk mendukung penerapan e-Toll Card tersebut. GTO di khususkan bagi pengguna jalan tol golongan I (kategori kendaraan non bus) yang menggunakan e-Toll Card untuk melakukan transaksi di tol. Penerapan sistem transaksi elektronik tersebut memberikan layanan transaksi yang lebih cepat serta memberikan kemudahan bagi pengguna jalan tol dengan tidak diperlukannya uang tunai dalam bertransaksi. Selain itu, Jasa Marga menerapkan sistem informasi dan komunikasi pelayanan lalu lintas terpadu dan efektif, dengan mengintensifkan pemantauan kondisi lalu lintas secara real-time melalui kamera CCTV (closed-circuit television), mempercepat proses mendapatkan informasi terkait kondisi lalu lintas secara real time melalui rambu elektronik Variable Message Sign (VMS) dan Pusat Informasi Lalu Lintas Jasa Marga, sehingga response time bagi petugas di lapangan dan informasi yang  disampaikan kepada pengguna jalan tersedia dengan cepat, akurat dan real time. Selain itu pembakuan standard operating procedure (SOP) mengenai seluruh aspek pelayanan mulai dari aspek keamanan, kelancaran arus lalu lintas serta perawatan dan pemeliharaan jalan tol dilakukan Jasa Marga untuk mendukung komitmennya terhadap peningkatan pelayanan kepada pengguna jalan tol.

Strategi terkait pemeliharaan jalan tol difokuskan pada penerapan sistem kontrak berdasarkan kinerja dengan jaminan minimum 2 (dua) tahun, pelaksanaan peningkatan kapasitas jalan tol, penataan lingkungan jalan tol sesuai karakteristik masing-masing ruas jalan tol serta penambahan lajur jalan tol yang kapasitasnya sudah mendekati 0,8 dan memiliki lahan yang memadai.

Untuk menunjang strategi-strategi di atas, Jasa Marga menjalankan berbagai kebijakan yang terkait dengan pendanaan dan manajemen organisasi sebagai fungsi pendukung untuk menjalankan strategi usaha. Dalam hal pendanaan, Jasa Marga tidak berhutang dalam valuta asing (valas) karena pendapatan Perseroan semuanya dalam rupiah, dengan demikian Perseroan terhindar dari setiap gejolak mata uang. Sumber dana Perseroan berasal dari arus kas internal (pendapatan tol) serta sumber eksternal yang dicari dari sumber yang paling efisien dari segi biaya dan penarikannya pun sesuai dengan kebutuhan. Sumber dana eksternal berasal dari pasar modal, perbankan dan pasar uang. Setelah jalan tol baru beroperasi hutang Bank akan di-refinance dengan hutang jangka panjang lainnya yaitu dengan menerbitkan obligasi yang mempunyai tenor lebih panjang.
Disamping itu, dana idle ditempatkan secara selektif dengan hasil yang optimal melalui penempatan dana pada instrumen portofolio yang aman, seperti deposito.

Strategi di bidang organisasi dilakukan dengan menjadikan Kantor Pusat sebagai Investment Holding Company sementara Anak Perusahaan/Kantor Cabang sebagai SBU (Strategic Business Unit). Dengan strategi tersebut sebagian besar wewenang operasional yang ada di Kantor Pusat didelegasikan ke kantor Cabang/Anak Perusahaan sehingga proses pengambilan keputusan dapat menjadi lebih efisien dan efektif. Setiap SBU didorong untuk menjadi organisasi yang memiliki knowledge capital. Jasa Marga terus-menerus melakukan pelatihan dan pengembangan seperti mengikutkan karyawan pada pelatihan-pelatihan yang mengarah pada pembentukan sikap yang berkinerja prima, memberikan pelatihan kepemimpinan yang berorientasi pada kepemimpinan bisnis dan teknis,  meningkatkan frekuensi pelatihan GCG,  mengembangkan program pelatihan yang membangun budaya kerja yang kompetitif secara berkesinambungan.
Sebagai upaya untuk mendorong karyawan untuk terus berkarya, Perseroan menerapkan sistem remunerasi berdasarkan kompetensi yang dikaitkan dengan kinerja serta standar yang berlaku di industri (best industry practices). Evaluasi dan perbaikan sistem pengelolaan SDM dilakukan secara terus-menerus sehingga kinerja karyawan terus meningkat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja operasional Perseroan.

Perseroan menerapkan strategi manajemen mutu dengan menggunakan kriteria Malcolm Baldridge untuk memastikan mutu dan proses kerja Perseroan serta membangun budaya mutu 5Q (Quality of Safety, Quality of Time, Quality of Attitude, Quality of Product & Quality of Cost) dengan kerangka dasar ISO 9001:2000 serta mengembangkan sumber daya mutu sesuai dengan ISO 9001, QCC, SSP sehingga Pelayanan Prima secara intensif dan terintegrasi dapat tercipta. Disamping itu, Perseroan terus-menerus membangun budaya K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) dengan mengadopsi standar OHSAS:18001.
Penerapkan strategi-strategi tersebut pada akhirnya mendorong peningkatan pendapatan, pelayanan menjadi lebih aman dan nyaman serta penurunan biaya sehingga pada akhirnya meningkatkan nilai Perseroan.

 

SEKILAS JASA MARGA

Didirikan 01 Maret 1978, Perseroan adalah perintis penyelenggaraan jalan tol di Indonesia. Dengan pengalaman selama 32 tahun, Perseroan tetap menjadi pemimpin pasar di industri jalan tol di Tanah Air. Jalan tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) merupakan jalan tol pertama Perseroan dan merupakan tonggak sejarah bagi pengembangan industri jalan tol di Tanah Air. Hingga saat ini Perseroan telah mengoperasikan 531 km jalan tol atau 76% dari total panjang jalan tol di Tanah Air.

Pada era tahun 1980-an, berbagai jalan tol lain dibangun Jasa Marga bersama Pemerintah. Kemudian, pada dasawarsa 1990-an, Jasa Marga lebih lebih diperankan sebagai Lembaga Otoritas untuk memfasilitasi investor-investor swasta yang ternyata sebagian besar gagal mewujudkan proyeknya. Sesuai peraturan yang berlaku saat itu, Jasa Marga mengambil alih dan meneruskan proyek-proyek jalan tol tersebut, seperti JORR dan Cipularang. Pada tahun 2004 Jasa Marga berhasil memenangkan 3 (tiga) konsesi baru yaitu Bogor Ring Road, Semarang-Solo, Gempol-Pasuruan dan 2 (dua) ruas JORR 2 (Cengkareng-Kunciran dan Kunciran-Serpong) pada tahun 2007. Dua ruas tol baru lainnya yaitu Surabaya-Mojokerto dan JORR W2 Utara menambah jumlah ruas tol yang dimiliki Perseoan. Saat ini Perseroan sedang membangun 7 (tujuh) ruas tol baru dengan panjang sekitar 200 km, yang diharapkan dapat beroperasi secara bertahap antara 2009-2013.

Perseroan telah melalui berbagai peristiwa penting dan perubahan dalam perjalanannya. Pada awal berdirinya, Perseroan berperan tidak hanya sebagai operator, tetapi juga memikul tanggung jawab sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Tahun 2004, peran otorisator dikembalikan kepada Pemerintah dengan dikeluarkannya Undang Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan. Peran otorisator dilaksanakan oleh Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Sebagai konsekuensinya, Jasa Marga menjalankan fungsi sepenuhnya sebagai sebuah perusahaan pengembang dan operator jalan tol dengan berorientasi pada kaidah-kaidah korporasi.

Perubahan ini mendorong Perseroan untuk lebih fokus dalam mengembangkan bisnis jalan tol, mulai dari perencanaan, pembangunan hingga pengoperasian jalan tol. Perseroan pun semakin mendapatkan kepercayaan pemangku kepentingan (stakeholders) terutama investor karena Perseroan dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatkan nilai Perseroan.
Perubahan peran ini juga menjadi basis transformasi Perseroan untuk mencapai visinya yakni menjadi perusahaan jalan tol yang modern dan menjadi pemimpin di industrinya. Sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja, Perseroan mencatatkan 30% sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang kini menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) tanggal 12 November 2007. Dengan demikian statusnya pun berubah dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang seluruh sahamnya dimiliki Negara menjadi perusahaan BUMN terbuka yang 30% sahamnya dimiliki publik. Dengan harga perdana sebesar Rp 1,700 per lembar, Perseroan memperoleh dana segar sebesar Rp 3.4 triliun. Dana tersebut dipakai untuk pengembangan lima ruas jalan tol, yaitu, Bogor Ring Road, Semarang-Solo, Gempol-Pasuruan, Serpong-Kunciran dan Kunciran-Cengkareng, serta menyelesaikan JORR (Jakarta Outer Ring Road) W2 Utara yang merupakan bagian dari ruas JORR.
Sebagai perusahaan terbuka, Perseroan terdorong untuk terus meningkatkan kinerjanya serta memiliki komitmen untuk memuaskan seluruh pemangku kepentingannya, yaitu antara lain pemegang saham, Pemerintah, pengguna jalan tol dan masyarakat umum. Untuk menjaga kepercayaan pemangku kepentingan, Perseroan memiliki komitmen untuk menerapkan praktik tata kelola yang baik (good corporate governance).

 

Visi & Misi PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Visi
Menjadi Perusahaan modern dalam bidang pengembangan dan pengoperasian jalan tol, menjadi pemimpin (leader) dalam industri jalan tol dengan mengoperasikan mayoritas jalan tol di Indonesia, serta memiliki daya saing yang tinggi di tingkat Nasional dan Regional.

Misi
Menambah panjang jalan tol secara berkelanjutan, sehingga Perusahaan menguasai paling sedikit 50% panjang jalan tol di Indonesia dan usaha terkait lainnya, dengan memaksimalkan pemanfaatan potensi keuangan Perusahaan serta meningkatkan mutu dan efisiensi jasa pelayanan jalan tol melalui penggunaan teknologi yang optimal dan penerapan kaidah-kaidah manajemen Perusahaan modern dengan tata kelola yang baik.

 

 

Peristiwa Penting di Tahun 2009

30 Januari
Empat operator jalan tol yang terdiri dari Jasa Marga, CMNP, BSD dan MMS bekerjasama dengan Bank Mandiri meluncurkan sistem transaksi pembayaran tol yang dilakukan secara elektronik atau Electronic Toll Card (e-Toll Card) sebagai upaya meningkatkan pelayanan transaksi di gerbang tol sehingga transaksi akan semakin mudah dan lebih cepat.
31 Januari
Pencanangan pembangunan jalan bebas hambatan Semarang-Solo oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo di Kelurahan Kramas, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.
03 Februari
Penandatanganan Kontrak Manajemen antara Direksi dengan masing-masing Kepala Cabang dan PT Jalantol Lingkarluar Jakarta (JLJ), sebagai tolok ukur keberhasilan dari masing-masing Cabang dan Anak Perusahaan.
18 Februari
Penandatanganan Nota Kesepakatan dengan para pemegang saham PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) yang merupakan perusahaan yang memiliki konsesi Jalan Tol Surabaya-Mojokerto, dalam rangka restrukturisasi MNA untuk merubah komposisi kepemilikan saham di MNA menjadi Jasa Marga 55%, PT Wijaya Karya (Persero) 20% dan keluarga Moeladi 25% dimana sebelumnya saham Jasa Marga pada konsorsium MNA adalah sebesar 1,7%.
25 Februari
Dalam rangka menyambut HUT Jasa Marga ke-31 diadakan Lomba Pelayanan Lalu Lintas (Yanlalin) 2009 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, yang diikuti oleh sembilan Kantor Cabang dan PT JLJ sebagai sarana bertukar informasi dan pengalaman dalam hal pelayanan lalu lintas di jalan tol dan bertujuan memotivasi para peserta untuk meningkatkan kreativitas, kemampuan dan profesionalisme dalam melaksanakan tugas sehingga dapat memberikan pelayanan terbaik bagi pengguna jalan.
02 Maret
Penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) Jalan Tol Kunciran-Cengkareng sepanjang 15 km yang dikelola PT Marga Kunciran Cengkareng dimana Jasa Marga akan menjadi pemegang saham mayoritas. Jalan Tol Kunciran-Cengkareng merupakan bagian dari jaringan JORR2 yang tersambung dengan ruas Serpong-Kunciran yang dimiliki oleh PT Trans Marga Nusantara dimana Jasa Marga merupakan pemegang saham mayoritas.
04 Maret
Pengobatan Gratis di sepuluh lokasi yang tersebar di sekitar jalan tol di seluruh Indonesia sebagai salah satu bentuk kepedulian Jasa Marga terhadap masyarakat di sekitar jalan tol. Acara yang digelar secara serentak bagi sekitar 5.000 penduduk yang ada di sekitar jalan tol ini menyerap dana sekitar Rp 310 juta yang bersumber dari dana PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) Jasa Marga.
25 Maret
RUPS Luar Biasa Jasa Marga di Grand Ballroom The Dharmawangsa, Jakarta diantaranya guna mendapatkan persetujuan untuk melakukan Transaksi Material dalam rangka peningkatan penyertaan kepemilikan saham Perseroan dan peningkatan tambahan modal pada PT Marga Kunciran Cengkareng, PT Marga Trans Nusantara, PT Marga Nujyasumo Agung dan penyertaan saham dan pengambilan hak opsi pada PT Jakarta Lingkar Baratsatu.
29 April
Jasa Marga meraih penghargaan Investor Awards Best Listed Companies 2009 Sektor Infrastruktur. Penghargaan yang diselenggarakan Majalah Investor tersebut diterima Direktur Keuangan Jasa Marga di Intercontinental Mid Plaza Ballroom, Jakarta.
28 Mei
RUPS Tahunan di Grand Ballroom The Dharmawangsa, Jakarta yang membicarakan lima agenda, diantaranya guna mendapatkan Persetujuan atas Laporan Tahunan Perseroan Tahun 2008 dan Pengesahan Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun 2008 dan Laporan Tahunan Pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Tahun Buku 2008.
29 Mei
Jasa Marga ditetapkan sebagai Pemenang Tender Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan Tol Jembatan Suramadu, melalui SK Menteri Pekerjaan Umum kepada Panitia Pelelangan Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan Tol Jembatan Suramadu No.: KU.03.01-Mn/315 tanggal 29 Mei 2009.
27 Juli
Penandatanganan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Tahun 2009-2011 antara Manajemen Jasa Marga dengan Serikat Karyawan Jasa Marga (SKJM) di Jakarta, dihadiri oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
24 Agustus
Penandatanganan pembentukan perusahaan patungan PT Marga Lingkar Jakarta untuk Pembangunan Jalan Tol JORR W2 Utara (Ulujami-Kebon Jeruk).
26 Agustus
Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi V DPR RI tentang Rencana Kenaikan Tarif Tol.
01 September
Wakil Presiden Boediono mengunjungi proyek pembangunan Jalan Tol Bogor Ring Road Seksi I dalam rangka mengunjungi beberapa proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan mengingat pentingnya peran infrastruktur, termasuk jalan tol, bagi kemajuan dan perkembangan ekonomi nasional.
28 September
Penyesuaian tarif untuk sebelas ruas jalan tol Jasa Marga sesuai SK Menteri Pekerjaan Umum No.: 514/KPTS/M/2009 tanggal 31 Agustus 2009 dan perubahan sistem transaksi di Ruas Jalan Tol Sedyatmo menjadi sistem terbuka dengan tarif merata.
09 Oktober
Investor Gathering di Rumah Maroko, Jakarta dihadiri oleh Direksi, Komisaris dan pejabat Jasa Marga dengan mengundang para analis, fund manager dan investor.
19 Oktober
Uji coba Gardu Tol Otomatis (GTO) untuk melayani pengguna jalan tol yang menggunakan e-Toll Card di Gerbang Tol Cililitan, sebagian bagian dari upaya meningkatkan pelayanan transaksi bagi pengguna jalan tol.
4 November
Rapat Umum Pemegang Obligasi di Hotel Bumi Karsa Bidakara, untuk meminta persetujuan pengunduran diri PT Bank Permata Tbk. selaku wali amanat obligasi Jasa Marga Seri Q tahun 2006, dengan tingkat bunga tetap dan penunjukkan PT Bank Mega Tbk. sebagai wali amanat pengganti.
23 November
Peresmian Jalan Tol Bogor Ring Road Seksi I (Sentul Selatan-Kedung Halang) sepanjang 3,8 km oleh Menteri Pekerjaan Umum. Dengan pengoperasian BORR ini, maka jarak tempuh Bogor-Jakarta menjadi lebih cepat 15-20 menit.
02 Desember
Jasa Marga berpartisipasi dalam acara Investor Summit and Capital Market Expo 2009 di the Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia. Dalam acara yang digelar BEI setiap tahun ini, Jasa Marga memaparkan status terkini, rencana strategis serta kinerjanya kepada para investor yang hadir.
16 Desember
Jasa Marga menyelenggarakan Editor Gathering di Lobby Lounge Bimasena The Dharmawangsa, Jakarta yang menghadirkan Kepala BPJT Nurdin Manurung sebagai salah satu narasumber.

 

Ikhtisar Keuangan

 

Ikhtisar Saham JSMR

 

Laporan Komisaris Utama

Kepada seluruh Pemegang Saham yang kami hormati,

Dalam suasana kebangkitan perekonomian Nasional setelah dilewatinya masa sulit akibat terjadinya krisis ekonomi dan keuangan dunia dalam tahun 2008 yang lalu, sepanjang tahun 2009 ini dengan gigih dan tekun PT Jasa Marga (Persero) Tbk. memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk terus tumbuh mengembangkan diri dalam bisnis jalan tol dan berhasil menciptakan landasan yang kokoh yang diperlukan untuk mewujudkan misi Perusahaan sebagai perusahaan modern, leader dan berdaya saing tinggi dalam bisnis industri jalan tol ditingkat Nasional.

Semakin sengitnya persaingan usaha dalam bisnis jalan tol dan semakin banyak anak-anak perusahaan yang dibentuk untuk membangun jalan-jalan tol baru, disamping cabang-cabang yang mengelola operasi jalan tol yang ada, serta masih beratnya kendala dalam pelaksanaan pembebasan lahan yang diperlukan untuk jalan tol, Dewan Komisaris bersama-sama dengan Direksi menyadari perlunya suatu organisasi yang efektif dan efisien didukung SDM yang profesional, memiliki jiwa dan semangat entrepreneurship yang tinggi, didukung dengan budaya tata kelola perusahaan yang baik, serta adanya dukungan dari Pemerintah.

Dalam tahun 2009 dilakukan penataan kembali struktur organisasi Perseroan ditingkat Pusat, Cabang dan Anak Perusahaan agar lebih efektif dan efisien dalam pengelolaan dan pengendalian Perusahaan, serta perbaikan remunerasi yang berbasis kinerja bagi para pejabat inti Perusahaan dan peningkatan kesejahteraan karyawan. Perbaikan kesejahteraan tersebut dimungkinkan dengan adanya upaya yang keras dari Direksi dan karyawan untuk menekan beban usaha dan keberhasilan dalam mengelola manajemen keuangan Perseroan yang lebih efektif dan efisien, sehingga Perseroan dapat meraih laba bersih sebesar Rp 992,69 milyar atau meningkat sebesar 40,25% dibandingkan capaian tahun 2008, yang didalamnya telah memperhitungkan adanya capital gain sebesar Rp 124,99 milyar.

Perseroan menyadari bahwa pendapatan usaha tidak seyogyanya hanya bertumpu pada kenaikan tarif tol, tetapi juga diupayakan bertambah dari pembangunan ruas-ruas jalan tol baru, serta upaya meningkatkan pertumbuhan volume lalu lintas jalan tol. Disamping itu perlu dengan jeli memanfaatkan peluang usaha non tol seperti property development, pembangunan tempat istirahat dan pelayanan berskala besar, fiber optic serta periklanan dan sebagainya dengan target kedepan dapat meraup pendapatan 5%-10% dari pendapatan usaha.

Dalam rangka melakukan ekspansi usaha melalui pembangunan dan akuisisi ruas jalan tol baru, Perseroan melakukannya dengan selektif, sesuai dengan kebijakan, strategi dan kriteria pemilihan proyek/ruas jalan tol yang telah disepakati Dewan Komisaris dan Direksi, serta melalui kajian risiko yang cermat, teliti dan prudent. Dalam upaya meningkatkan pencapaian realisasi biaya investasi (capital expenditures), Dewan Komisaris mendorong dilakukannya penajaman program dan bersama Direksi mendesak realisasi dukungan Pemerintah dalam percepatan diterbitkannya Keppres dan/atau Undang Undang tentang Pembebasan Lahan untuk Kepentingan Umum, pengefektifan pengalokasian dan pencairan dana BLU dan land capping, serta secara lebih intensif memberdayakan Tim Percepatan Pembangunan Jalan Tol Baru yang dibentuk Dewan Komisaris, dalam menangani percepatan proses pembebasan tanah.

Proses reformasi organisasi dan SDM didukung dengan penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) berlangsung terus dan dibawah pimpinan Direksi dan supervisi Dewan Komisaris. Upaya ini berhasil baik, dimana dalam tahun 2009 Jasa Marga termasuk dalam ranking ke-9 dengan rating "terpercaya" dalam menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance dengan baik dari 25 perusahaan di Indonesia yang terpilih menjadi peserta riset Corporate Governance Perception Index 2008, atas dasar penilaian dari 100 investor dan analis. Prestasi ini mendorong semangat Manajemen Perseroan untuk lebih meningkatkan pelayanannya dan memberikan keuntungan yang selayaknya sesuai dengan harapan para pemegang saham dan stakeholders Jasa Marga.

Kedepan, menyadari perlunya peningkatan pelayanan bagi masyarakat pengguna jalan tol dan searah dengan sasaran mewujudkan Jasa Marga sebagai perusahaan yang modern, serta dalam rangka mengefektifkan pengamanan dan pencatatan penerimaan pendapatan tol secara on line, Dewan Komisaris minta agar Direksi membenahi dan meningkatkan kinerja Perusahaan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan inovasi dalam aspek perencanaan, design dan konstruksi untuk pembangunan, operasi dan pemeliharaan jalan tol yang kuat, efisien dan handal.

Selanjutnya Dewan Komisaris menyampaikan selamat dan penghargaan kepada Direksi beserta seluruh jajarannya atas prestasi yang berhasil diraih selama tahun 2009 dalam meningkatkan pengelolaan dan nilai Perusahaan, serta dalam rangka mendukung program Pemerintah untuk percepatan pembangunan infrastruktur jalan tol untuk memacu pertumbuhan perekonomian Nasional.

Terakhir, dengan kerja keras dan semangat kebersamaan Dewan Komisaris, Direksi dan karyawan Jasa Marga, kita songsong hasil dan masa depan yang lebih baik.

Atas Nama Dewan Komisaris PT Jasa Marga (Persero) Tbk.,

Gembong Priyono
Komisaris Utama


 

Dewan Komisaris

Berdiri dari kiri ke kanan :

Sumaryanto Widayatin
Komisaris

Joyo Winoto
Komisaris

Irjen Polisi (Purn.) Michael Dendron Primanto
Komisaris Independen

Duduk dari kiri ke kanan :

Mayjen. (Purn). Samsoedin
Komisaris Independen

Gembong Priyono
Komisaris Utama

Akhmad Syakhroza
Komisaris


Gembong Priyono
Komisaris Utama

Lahir pada tanggal 22 September 1946. Pernah menjabat sebagai Staf Khusus Wakil Presiden RI (2007-2009), setelah sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Wakil Presiden RI (2005-2007), Sekretaris Jenderal Komisi Nasional HAM, Sekretaris Jenderal Departemen Pemukiman & Prasarana Wilayah, Direktur Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, Komisaris PT Pembangunan Perumahan (Persero) serta Ketua Dewan Pengawas Perum Perumnas. Meraih gelar S1 Ekonomi dari UGM Yogyakarta (1970), sedangkan S2 bidang Agricultural Development Economics dari Australian National University, Canberra (1981).

Sumaryanto Widayatin
Komisaris

Lahir pada tanggal 13 Desember 1954. Saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia Departemen Pekerjaan Umum. Sebelumnya menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum Bidang Ekonomi & Investasi (2005 - Februari 2008), Kepala Pusat Pelatihan Jasa Konstruksi (PUSLATJAKONS) BPSDM Departemen Kimpraswil (2003-2005), Kepala Pusat Pengembangan Investasi, BAPEKIN Departemen Kimpraswil (2001-2003), Direktur Investasi Dunia Usaha & Masyarakat pada Departemen Kimbangwil (2000-2001), Kepala Subdit Jalan, Dit. Bintek pada Departemen PU (1999-2000), Kepala Subdit Jalan Tol, Dit. Binkot pada Departemen PU (1997-1999). Meraih gelar S1 Teknik Sipil dari ITB (1979) dan S2 bidang Transportasi dari Purdue University, USA (1989).

Akhmad Syakhroza
Komisaris

Lahir pada tanggal 30 November 1963. Saat ini menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (2009-sekarang). Sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Akuntansi FEUI (2002-Juli 2009). Saat ini juga sebagai Staff Pengajar Tetap Fakultas Ekonomi Unversitas Indonesia pada Program S1, S2 dan S3 (1986-sekarang), Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (2004-sekarang), Tenaga Ahli Badan Pemeriksa Keuangan RI (2005-sekarang) serta Penase-hat Ekonomi & Investasi Gubernur Provinsi Lampung (2006-sekarang). Sebelumnya pernah berkarir di Citi-bank Jakarta (1989-1990), Bimantara Group (1988-1989) dan Kantor Akuntan Publik Amir Abadi Jusuf (1986-1988). Meraih gelar S1 Akuntansi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1987), S2 bidang Accounting, Finance and Information Sistem dari Cleveland State University, Ohio, USA (1991), S3 bidang Organization Behavior and Management Accounting dari Faculty of Business and Public Management dari Edith Cowan University, Perth, Australia (2002).

Joyo Winoto
Komisaris

Lahir pada tanggal 16 November 1961. Saat ini menjabat Kepala Badan Pertanahan Nasional Repu-blik Indonesia (Juli 2005-sekarang). Sebelumnya menjabat Direktur Pangan, Pertanian, dan Pengairan Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia; Kepala Biro Pangan, Pertanian dan Pengairan Bappenas; dan Kepala Biro Kerjasama Ekonomi Luar Ne-geri Bappenas. Saat ini masih aktif sebagai Direktur Senior Brighten Institute Bogor, dan sebagai Dosen di Institut Pertanian Bogor. Meraih gelar PhD (Ekonomi Politik Sumber Daya dan Wilayah) dari Department of Resource Development, Michigan State University, USA (1995).

Mayjen. (Purn). Samsoedin
Komisaris Independen

Lahir pada tanggal 21 Agustus 1942. Karier militer penting sebelumnya pernah sebagai Koordinator Staf Ahli Kasad (1996), Kepala Dinas Litbang Angkatan Darat (1995), Komandan Pussen Artileri (1993), Komandan Resimen 162 Dam
Udayana (1988), Komandan Pusdik Artileri (1985). Pernah menjadi Komisaris PT Telkomindo Prima Bhakti (2000), Anggota DPR-RI (1997-1999) serta Widyaiswara Utama, Lemhanas (1996). Meraih gelar S1 bidang Administrasi Negara (1995) dan S2 bidang Manajemen dari University of Philipina (UPI) (1996).

Irjen Polisi (Purn.) Michael Dendron Primanto
Komisaris Independen

Lahir pada tanggal 29 September 1949. Diangkat menjadi Anggota Komisaris pada tahun 2007. Beliau adalah Purnawirawan POLRI dengan jabatan terakhir sebagai Gubernur Akademi Kepolisian, Semarang dengan pangkat Inspektur Jenderal Polisi. Lulus AKABRI bagian Kepolisian tahun 1973 dan lulus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) tahun 1981. Meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Negeri Lampung tahun 2009 dan gelar Magister Hukum dari Universitas Negeri Lampung tahun 2002. Sejak Januari 2010 menjabat sebagai Ketua Komite Audit Jasa Marga.

 

 

Laporan Direktur Utama

Yang Terhormat Pemegang Saham,
 
Suatu kehormatan bagi kami untuk melaporkan hasil kinerja Perseroan dan berbagai langkah strategis yang dilakukan Perseroan pada tahun 2009.  
Tahun 2009 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi dunia bisnis pada umumnya, termasuk industri jalan tol, mengingat dampak krisis ekonomi global masih dirasakan. Disamping itu, kondisi ekonomi khususnya pada paruh pertama juga dibayangi agenda politik, yakni pemilihan umum untuk memilih anggota Parlemen serta  untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Tekanan eksternal dan internal tersebut terefleksi pada indikator pasar modal awal tahun yang masih mengalami kontraksi dibandingkan dengan pencapaian pada awal 2008. Namun demikian, kondisi ekonomi Indonesia dapat dikatakan lebih baik dibandingkan dengan kawasan Asia lainnya, yang terkena dampak krisis keuangan di Amerika Serikat dan Eropa.

Pencapaian Hasil Usaha yang lebih Baik

Dengan berbagai langkah transformatif, Perseroan mampu menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Hal ini terlihat dari pendapatan usaha tahun 2009 yang mencapai Rp 3,69 triliun, atau naik 10,09% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 3,35 triliun.

Laba usaha juga meningkat 10,54% menjadi Rp 1,52 triliun dari Rp 1,37 triliun pada tahun sebelumnya. Peningkatan laba usaha serta kontribusi dari pos luar biasa  mendorong naiknya laba bersih Perseroan menjadi Rp 992,69 milyar, atau naik 40,25% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 707,79 milyar. Pos luar biasa diperoleh Perseroan dari capital gain (keuntungan modal) sebesar Rp 124,99 milyar melalui penyertaan Jasa Marga di simpang susun Penjaringan JORR W1 yang setara dengan 23% kepemilikan saham di ruas tersebut. Bila pos luar biasa tersebut tidak dimasukkan dalam perhitungan, Perseroan tetap mencatat kenaikan laba bersih sebelum pos luar biasa dan hak minoritas sebesar 22,21%.

Kami menyadari pentingnya mempertahankan neraca keuangan yang kokoh sebagai basis bagi pertumbuhan Perseroan di tahun-tahun mendatang. Pada tahun 2009 ditengah gejoak ekonomi dunia, Perseroan mampu mempertahankan rasio utang serta posisi kas yang terus berada pada kondisi yang sehat. Dengan kombinasi posisi kas dan setara kas pada akhir 2009 dan fasilitas kredit yang cukup kuat dari perbankan dalam negeri, Perseroan memiliki kemampuan yang baik untuk mendanai operasional dan pengembangan jalan tol di masa datang.

Kinerja Operasi yang Lebih Baik

Sepanjang tahun 2009, kinerja operasi membuktikan bahwa Perseroan cukup tangguh dalam melewati masa krisis finansial yang masih terasa di awal tahun 2009. Dampak krisis ekonomi global sedikit berpengaruh terhadap bisnis jalan tol. Pengaruh tersebut ditandai dengan penurunan volume lalu lintas kendaraan golongan II sampai dengan V, yang merupakan golongan kendaraan truk dan sejenisnya. Hal tersebut terjadi khususnya di ruas jalan tol yang menghubungkan kawasan industri. Namun demikian, secara keseluruhan, penurunan volume lalu lintas dari kendaraan golongan tersebut dapat tertutupi dengan kenaikan yang signifikan pada jenis golongan kendaraan I, yaitu golongan kendaraan jenis penumpang yang rata-rata mencapai 90% dari total volume semua golongan kendaraan. Volume lalu lintas transaksi yang merupakan darah bagi bisnis jalan tol ini, pada tahun 2009 mencapai 916,48 juta kendaraan atau kenaikan sebesar 4,14% dibandingkan dengan volume lalu lintas transaksi tahun 2008, yaitu sebesar 880,06 juta kendaraan.

Kenaikan tarif tol yang mulai berlaku sejak 28 September 2009 merupakan kenaikan berkala dua tahunan sesuai dengan ketentuan Undang-undang Jalan No. 38 tahun 2004. Hal tersebut merupakan bukti komitmen Pemerintah untuk mendukung adanya kepastian berinvestasi di industri ini, mengingat pentingnya peran infrastruktur jalan dalam mendukung pertumbuhan perekonomian nasional. Kenaikan tarif tol tahun 2009 diberlakukan pada 11 ruas jalan tol yang dioperasikan Perseroan dengan kenaikan tarif rata-rata sebesar 15%. Besaran kenaikan tarif tersebut didasarkan atas tingkat inflasi selama 2 tahun terakhir yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.
 
Memberikan Pelayanan yang Lebih Baik kepada Pengguna Jalan
 
Sesuai visi Perseroan, upaya modernisasi Perseroan terus kami lakukan, termasuk dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pengguna jalan. Pada awal tahun 2009 Perseroan telah menerapkan sistem transaksi elektronik melalui penggunaan e-Toll Card. Usaha ini telah dirintis sejak beberapa tahun yang lalu dan kami bangga dapat mewujudkannya pada tahun 2009. Penggunaan e-Toll Card dapat mempercepat waktu transaksi, sehingga dapat mengurangi antrian di gardu tol. Waktu yang diperlukan untuk bertransaksi di gardu tol lebih cepat, dari minimum 7 detik untuk transaksi manual menjadi maksimum 4 detik dengan menggunakan e-Toll Card. Saat ini e-Toll Card baru diterapkan di ruas jalan tol Dalam Kota dan Cengkareng (Bandara), namun secara bertahap semua ruas jalan tol yang dikelola Perseroan akan menggunakan sistem transaksi elektronik ini, dengan satu e-Toll Card pengguna jalan dapat menggunakan e-Toll Card baik yang dikelola Jasa Marga maupun Operator lainnya. Pada tahun 2011 diharapkan sistem ini sudah terimplementasi di semua ruas-ruas tol Perseroan. Kedepan e-Toll Card ini dapat digunakan sebagai alat pembayaran di banyak tempat seperti di pasar swalayan dan pembelian BBM. Sistem transaksi ini mendukung program Pemerintah dalam memasyarakatkan transaksi non tunai dan juga merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kesulitan penyediaan uang untuk pengembalian transaksi Tol. Pengoperasian Gardu Tol Otomatis (GTO) di ruas tol Dalam Kota dan Cengkareng mendukung sistem transaksi elektronik ini. Dengan disediakannya jalur khusus bagi pengguna e-Toll Card maka diharapkan masyarakat Pengguna Jalan Tol akan lebih tertarik untuk menggunakan e-Toll Card.

Modernisasi sistem informasi juga kami lakukan melalui pemasangan Variable Messages Sign/VMS (rambu elektronik) dan pemasangan CCTV di seluruh jalan tol di pulau Jawa, yang dapat dipantau dari Sentral Komunikasi Jasa Marga di Cililitan, Jakarta. Dengan fasilitas tersebut kami dapat memberikan informasi lalu lintas secara realtime kepada pengguna jalan selama 24 jam dengan menghubungi nomor Call Center Traffic Information Center 021-80880123. Media penyampaian informasi real time tersebut kami perluas untuk dapat diakses secara live melalui jaringan website dan perangkat bergerak (mobile devices) dengan mengakses http://jasamargalive.com untuk laptop dan http://m.jasamargalive.com untuk handphone. Tentunya semua ini kami dedikasikan untuk peningkatan pelayanan dan kemudahan kepada pengguna jalan.

Selain usaha-usaha peningkatan pelayanan transaksi dan pelayanan lalu lintas seperti yang kami sebutkan diatas, kami juga melakukan peningkatan pelayanan konstruksi agar substansi pelayanan yang lebih baik kepada pengguna jalan tol terhadap kondisi jalan tol dan kecepatan tempuh rata-rata dapat terus terjaga sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Jalan Tol yang telah ditetapkan oleh pihak Regulator Industri Jalan Tol. Selama tahun 2009 kami melakukan beberapa pelebaran jalan tol pada ruas-ruas jalan tol yang telah mempunyai Volume/Kapasitas (V/C Ratio) mendekati 0,8 dan memiliki lahan yang memadai. Pada kondisi V/C Ratio tersebut volume kendaraan sudah tinggi dibandingkan dengan kapasitas badan jalan yang tersedia sehingga akan mempengaruhi waktu tempuh pengguna jalan tol. Terhadap kondisi jalan tol kami juga terus memelihara kondisi dengan melakukan pemeliharaan berkala seperti overlay karena jalan yang ada mempunyai umur yang harus dijaga agar tetap layak digunakan. Beberapa ruas jalan tol yang kami lebarkan dan dilakukan overlay pada tahun 2009 antara lain ruas Sedyatmo, Jagorawi, Jakarta-Cikampek, Semarang dan Belmera dengan total pelebaran sepanjang 59.241 meter dan total biaya investasi sebesar Rp530.661.009.980,-

Landasan Pengembangan Perseroan yang Lebih Kokoh

Dengan pengalaman pengoperasian dan pengembangan jalan tol selama 32 tahun dan kapasitas serta kondisi keuangan Perseroan yang sangat baik, Perseroan terus melakukan upaya ekspansif untuk menambah panjang tol dari yang saat ini dioperasikan sepanjang 531 km. Momentum pertumbuhan Perseroan yang kami capai saat ini harus terus dijaga sejalan dengan visi Perseroan untuk tetap menjadi leader dalam industri jalan tol di Indonesia. Saat ini posisi Jasa Marga adalah Leader dengan mengoperasikan 76% dari total panjang jalan tol di Indonesia. Untuk mempertahankan posisi leader tersebut, langkah-langkah strategis telah kami lakukan untuk mendukung pertumbuhan Perseroan baik secara organik maupun non-organik yakni dengan mengakuisisi perusahaan jalan tol yang potensial atau meningkatkan kepemilikan untuk menjadi controlling shareholder, sehingga Perseroan dapat mengambil peran utama dalam mempercepat terwujudnya pengoperasian tol baru. Tahun 2009, Perseroan meningkatkan penyertaan kepemilikan saham menjadi pemegang saham mayoritas pada empat perusahaan, yakni PT Marga Kunciran Cengkareng (MKC), pemegang konsesi jalan tol ruas Cengkareng-Kunciran; PT Marga Trans Nusantara (MTN), pemegang konsesi jalan tol ruas Kunciran-Serpong; PT Marga Nujyasumo Agung (MNA), pemegang konsesi jalan tol ruas Surabaya-Mojokerto; dan penyertaan saham pada PT Jakarta Lingkar Baratsatu (JLB), pemegang konsesi jalan tol Jakarta Outer Ring Road W1 (JORR W1), ruas Kebon Jeruk-Penjaringan. Peningkatan kepenyertaan saham tersebut telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham Jasa Marga pada penyelenggaraan RUPS Luar Biasa pada tanggal 25 Maret 2009. Langkah yang strategis tersebut kami ambil tentunya dengan pertimbangan bisnis yang matang, didahului dengan proses due diligence yang mendalam.

Salah satu highlight dari pencapaian Perseroan tahun lalu adalah mulai dioperasikannya jalan tol Bogor Ring Road (BORR) pada tanggal 23 November 2009. Strategi interkoneksi yang kami lakukan dengan membangun jalan-jalan tol baru dengan jalan tol yang telah beroperasi terbukti memberikan hasil yang menggembirakan. Sampai dengan akhir Desember 2009, volume lalu lintas harian jalan tol BORR mencapai hasil yang diharapkan dan menunjukan trend yang meningkat. Dengan perkembangan kota Bogor yang pesat dan terkoneksinya BORR dengan jalan tol Jagorawi sebagai jalur utama dari daerah Bogor ke Jakarta, kami yakin bahwa BORR akan memberikan imbal hasil investasi yang sesuai dengan target Jasa Marga.
Pengoperasian BORR sepanjang 3,8 km menambah portofolio pengoperasian jalan tol yang telah dioperasikan oleh Jasa Marga, sehingga sampai dengan akhir tahun 2009 Perseroan telah mengoperasikan jalan tol sepanjang 531 km.
 
Di semester II tahun 2010, kami menargetkan penyelesaian dan pengoperasian ruas Semarang-Ungaran yang merupakan bagian dari jalan tol Semarang-Solo sepanjang 11,3 km dan  ruas Waru-Sepanjang sepanjang 2,3 km yang merupakan bagian dari ruas Surabaya-Mojokerto. Sedangkan ruas-ruas lainnya yang saat ini dalam proses investasi, tentunya akan segera dimulai konstruksinya segera setelah lahan untuk ruas yang bersangkutan tersedia.
 
Seperti diketahui pada tahun 2009 Indonesia dengan bangga telah berhasil membuktikan karya hasil bangsa sendiri dengan terwujudnya Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya-Madura sepanjang 5 km dan Jasa Marga dengan pengalaman sebagai operator jalan tol di 14 ruas dan jembatan Jamuna di Bangladesh dipercaya untuk menjadi operator tol Jembatan Suramadu melalui suatu proses pemilihan yang kompetitif. Merupakan suatu pencapaian dan kebanggaan tersendiri untuk menjadi operator pada proyek infrastruktur yang spektakuler dan telah lama ditunggu-tunggu oleh bangsa Indonesia ini.

Kami menyadari bahwa saat ini Indonesia mempunyai infrastruktur yang masih jauh dari mencukupi untuk mendukung akselerasi pertumbuhan ekonomi. Penambahan panjang jalan tol yang lambat dibandingkan dengan kondisi perkembangan jalan tol di negara lain memberikan gambaran bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan baik oleh Pemerintah maupun Perseroan sebagai pemain utama dalam industri ini.

Bersama dengan Pemerintah dalam hal ini Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Perseroan terus melakukan usaha-usaha perbaikan kondisi baik dari sisi regulasi maupun bentuk dukungan Pemerintah terhadap perkembangan industri jalan tol. Sebagai Perusahaan Jalan Tol pertama dan terbesar di industri ini Perseroan mempunyai posisi yang cukup strategis dalam perjalanan perkembangan jalan tol di Indonesia. Perseroan secara pro aktif memberikan sumbang saran dan masukan kepada regulator untuk memperbaiki iklim bisnis di industri jalan tol ini. Salah satu yang menjadi tantangan utama pada industri jalan tol ini adalah masalah pembebasan lahan. Pembebasan lahan saat ini masih menjadi risiko utama dalam investasi jalan tol di Indonesia. Proses pembebasan lahan yang berlarut-larut berakibat pada membengkaknya biaya investasi serta tertundanya pengoperasian jalan tol. Upaya untuk memitigasi risiko ini telah dilakukan Pemerintah melalui beberapa kebijakan berupa dana bergulir (revolving fund) untuk menyelesaian pembebasan lahan, serta land capping untuk menjamin biaya tanah maksimum dalam investasi dan penggunaan appraisal untuk menentukan harga tanah yang wajar. Dengan adanya dana bergulir, pembelian tanah dilaksanakan terlebih dahulu oleh Pemerintah, dan setelah tanah yang telah dibebaskan minimal 1 seksi tersebut diserahkan ke investor untuk dibangun, maka investor berkewajiban untuk membayar biaya tanah tersebut. Dengan cara ini, investor jalan tol dapat mengelola cash-flow-nya dengan lebih baik dan memitigasi risiko usahanya. Melalui skema land-capping, risiko kelebihan biaya tanah diambil alih oleh Pemerintah. Investor hanya menanggung sampai dengan 10% biaya kenaikan harga lahan dari biaya yang sudah disepakati sejak awal. Kenaikan biaya di atas 10% ditanggung oleh Pemerintah. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan kelayakan proyek investasi sesuai dengan rencana target imbal hasil pada rencana bisnis.

Upaya untuk memperbaiki Undang Undang pembebasan lahan ini terus dilakukan Pemerintah, dan Jasa Marga secara aktif memberikan dukungan melalui pandangan dan masukan dalam proses perbaikan tersebut. Diharapkan Undang Undang Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Umum yang saat ini masih dalam proses pembahasan dapat segera terealisir tahun 2010 ini, sehingga kendala proses pembebasan lahan yang menjadi hambatan utama dapat teratasi.

Langkah-langkah yang telah kami kami lakukan tersebut merupakan landasan strategis yang secara kokoh akan menopang pertumbuhan Perseroan dan pada saatnya nanti Jasa Marga akan mampu berkembang lebih cepat dan lebih baik. Kami berkeyakinan, bahwa dengan potensi pertumbuhan volume kendaraan pada jalan tol yang ada serta pembangunan jalan-jalan tol baru akan memberikan upside potential bagi pertumbuhan Perseroan di masa yang akan datang.

Pengelolaan Perseroan yang Lebih Baik

Perseroan terus melanjutkan langkah transformasinya ke arah perubahan yang positif. Langkah transformatif dirancang untuk mengubah pola pikir dan cara kerja lama serta menumbuhkan budaya untuk mau berubah dan maju pada seluruh karyawan dan manajemen Perseroan, mulai dari pimpinan puncak hingga tingkat bawah. Langkah transformatif dilakukan di seluruh aspek operasional Perseroan, baik di bidang pelayanan, manajemen operasional maupun dalam hal pengembangan usaha. Semangat Berubah Untuk Terus Maju dan Berkembang kami tanamkan sebagai kekuatan utama dalam kegiatan usaha yang di lakukan.  
 
Di bidang manajemen proses bisnis, kami menerapkan kriteria Malcolm Baldridge sebagai pedoman pengukuran mutu proses kerja. Selain itu manajemen Risiko diterapkan dengan melakukan asesmen dan tindak lindung risiko terhadap program-program yang berpotensi risiko.
Tahun ini Jasa Marga telah mengembangkan sistem manajemen mutu yang terintegrasi dengan berbagai sistem manajemen lainnya karena Perusahaan yakin bahwa produk yang bermutu tinggi dan memberikan kepuasan pelanggan melebihi harapannya, hanya dapat dicapai dari perpaduan antara produk yang sesuai spesifikasi, proses produksi yang konsisten, cara kerja yang efisien, mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja serta etika usaha. Untuk itu Perusahaan menerapkan standar ISO 9001:2008 dan OHSAS 18001:2007 secara terintegrasi.

Sumber Daya Manusia merupakan bagian penting dari proses transformasi tersebut. Transformasi di bidang pengembangan SDM dilakukan dengan target meningkatkan kualitas dan menurunkan rasio karyawan per panjang jalan yang saat ini mencapai 13 karyawan per km, tiga tahun ke depan kami menargetkan rasio ini dapat diturunkan hingga mencapai 9 karyawan per km seiring dengan inisiatif efisiensi dibidang pengumpulan tol dan mulai beroperasinya jalan tol-jalan tol yang baru dimana Perseroan dapat mendistribusikan karyawan yang ada ke Anak-Anak Perusahaan pengelola jalan-jalan tol baru tersebut.

Pemberdayaan dan program pengembangan karyawan yang ada dilakukan melalui berbagai pelatihan untuk meningkatkan dan mengembangkan Knowledge, Skill dan Attitude karyawan. Disamping itu, pelatihan juga diarahkan untuk memupuk tata nilai Perseroan yang digali dari nilai-nilai universal yang sebenarnya telah ada dan hidup dalam setiap insan Jasa Marga, yaitu Integritas, Kecintaan pada Perseroan, Keinginan untuk Terus Belajar hal-hal baru, serta Saling Percaya dan menjaga Kepercayaan.
Langkah-langkah perubahan tersebut juga didukung oleh konsistensi manajemen untuk menerapkan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan yang baik secara berkelanjutan, transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, kemandirian dan keadilan di seluruh aspek bisnis Perusahaan.

Selama tahun 2009 Perseroan juga secara aktif melaksanakan program-program tanggung jawab sosial dengan fokus pada penghutanan sepanjang jalan tol dan program bantuan pendidikan untuk membangun mental masyarakat, renovasi tempat ibadah, rehabilitasi jalan perkampungan, penyediaan sarana olahraga, perbaikan sekolah dan sarananya, pemberian beasiswa, dan pengobatan gratis bagi masyarakat disekitar jalan tol. Kepedulian atas bencana alam yang terjadi di dalam negeri juga kami dukung dengan mengirimkan relawan dari kalangan karyawan pada bencana Situ Gintung dan gempa di Padang, Sumatera Barat.

Dukungan dan Penghargaan

Dengan hasil yang menggembirakan tersebut, Perseroan mampu memberi nilai tambah (value-added) kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya. Semua pencapaian Perseroan ini tentunya merupakan prestasi dari seluruh karyawan Jasa Marga, yang berdedikasi tinggi serta dukungan berbagai pihak, khususnya para pemegang saham – Pemerintah dan investor publik, masyarakat pengguna jalan dan stakeholders lainnya.

Dukungan masyarakat, termasuk investor, terefleksi dalam bentuk kembalinya harga saham di atas harga perdana, dan terpilihnya Jasa Marga sebagai salah satu Perusahaan yang terpercaya berdasarkan penilaian para analis saham.

Sebagai kelanjutan dari program buy back Perseroan pada akhir tahun 2008, pada awal tahun 2009 Perseroan melaksanakan pembelian saham hingga total saham yang dibeli oleh Perseroan sampai dengan Januari 2009 mencapai 24.523.500 saham atau 1,2% dari total saham yang berada di pasar. Sampai dengan akhir tahun 2009 Saham buy back tersebut masih dalam treasury stock Perseroan.

Jasa Marga memiliki kekuatan guna mengemban tugas ke depan yang semakin berat dan semakin menantang untuk dapat terus tumbuh dan berkembang dengan lebih pesat. Kekuatan tersebut meliputi SDM yang trampil dan berpengalaman, nilai-nilai dan budaya kerja yang baik, struktur organisasi dan sistem kerja yang semakin tertata, jaringan jalan tol yang telah beroperasi dan memberikan pendapatan yang pasti sepanjang lebih dari 531 km, struktur keuangan yang kuat, serta kepercayaan dari Pemerintah, investor dan masyarakat pengguna jalan. Sementara peluang pengembangan usaha terbuka luas dengan semakin mendesaknya kebutuhan akan infrastruktur jalan.
 
Dengan kekuatan dan kepercayaan tersebut, kami bangga bahwa Perseroan berhasil mencatat begitu banyak pencapaian di tahun 2009. Pencapaian tersebut merupakan hasil-hasil dari upaya yang telah dirintis oleh Perseroan sejak tahun 2006. Upaya Perseroan untuk mewujudkan visi sebagai Perseroan yang modern dan sebagai leader dalam industri jalan tol menampakkan wujud yang menggembirakan dalam bentuk pencapaian di bidang operasional, investasi dan keuangan di sepanjang tahun 2009. Penghargaan yang diterima Perseroan pada tahun 2009 yaitu dari Corporate Governance Perception Index 2009 sebagai "Trusted Company" merupakan bukti apresiasi dari pihak luar terhadap kinerja dan prestasi Jasa Marga.
 
Kami percaya, dengan pengalaman selama 32 tahun mengembangkan dan mengoperasikan jalan tol, serta dukungan seluruh stakeholders – Pemerintah sebagai regulator, Pemegang Saham, mitra kerja, pengguna jalan tol dan masyarakat umum, Perseroan akan terus mencatat pertumbuhan yang berkelanjutan di tahun-tahun mendatang serta dapat terus mempertahankan posisinya sebagai leader di dalam industri jalan tol Indonesia.

Atas nama Dewan Direksi, kami ingin menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada staf dan manajemen Perseroan, pemegang saham – baik Pemerintah maupun investor publik – masyarakat pengguna jalan, para mitra kerja serta stakeholders lainnya, yang telah mendukung Jasa Marga dalam terus mengembangkan dan meningkatkan kinerja Perseroan selama tahun 2009.
 
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberi karuniaNya kepada kita semua dalam menjalankan setiap usaha kita di tahun-tahun mendatang.

Atas nama Direksi PT Jasa Marga (Persero) Tbk.,

Frans S. Sunito
Direktur Utama

 

Dewan Direksi

Berdiri dari kiri ke kanan :

Adityawarman
Direktur Operasi

Abdul Hadi Hs.
Direktur Pengembangan Usaha

 

Duduk dari kiri ke kanan :

Reynaldi Hermansjah
Direktur Keuangan

Frans S. Sunito
Direktur Utama

Firmansjah
Direktur Sumber Daya Manusia & Umum

 

Frans S. Sunito
Direktur Utama

Lahir pada tanggal 09 Mei 1949. Sebelumnya menjabat sebagai Direktur Pengembangan dan Niaga Jasa Marga (1998-2006), Direktur Teknik dan Pengembangan Usaha PT Wijaya Karya (1997-1998), Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha PT Wijaya Karya (1992 - 1997), Direktur Keuangan dan Pengembangan Usaha PT Wijaya Karya (1990-1992). Memperoleh gelar S1 Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung (1974). Penghargaan Satyalancana Wirakarya didapat pada tahun 1997.

Adityawarman
Direktur Operasi

Lahir pada tanggal 25 Oktober 1955, bergabung dengan Jasa Marga tahun 1983. Sebelumnya pernah menjabat Komisaris PT Citra Waspphutowa (2006 - 2008), Komisaris PT Citra Margatama Surabaya (2002-2009), Direktur Operasi & Pengembangan Usaha PT CMNP (2002-2007), Direktur Operasi PT CMNP (2000-2002), Komisaris PT CMNP (1998-2000), Kepala Cabang Cawang-Tomang-Cengkareng (1997-2000), Kepala Cabang Jagorawi (1993-1997), Kepala Sub Divisi Peralatan Operasi Tol (1989-1993), Kepala Sub Divisi Manajemen Lalin dan Peralatan Tol (1988-1989), Kepala Bagian Peralatan Pengaturan Lalin dan Tol (1984-1988), Pgs. Kepala Bagian Operasi (1983-1984), Staf Sub Divisi Pengelolaan (1983). Menyelesaikan gelar S1 Fakultas Teknik Sipil Universitas Diponegoro dan S2 Magister Management Universitas Trisakti.

Abdul Hadi Hs.
Direktur Pengembangan Usaha

Lahir pada tanggal 13 Juni 1957. Bergabung dengan Jasa Marga tahun 1987 dan saat ini menjabat sebagai Direktur Pengembangan Usaha (2006-sekarang). Sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Jalantol Lingkar luar Jakarta (2001-2005), Kepala Divisi Pengembangan Investasi (1994-2001), Komisaris PT Bukaka Marga Utama (1995-2001) dan sebagai Ketua Tim Penanaman Modal Jalan Tol (1994-2001). Gelar S1 Teknik Sipil dari Universitas Trisakti (1982) dan Gelar S2 Magister Manajemen dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1992).

Reynaldi Hermansjah
Direktur Keuangan

Lahir pada tanggal 16 Mei 1967. Menjabat sebagai Direktur Keuang-an sejak 2006. Meraih gelar dari Universitas Trisakti dan memiliki pengalaman selama 15 tahun di bidang investasi dan pasar modal di sektor keuangan. Karirnya dimulai tahun 1991 sebagai Head of Sales di Nomura Securities. Tahun 1993 sampai 1996 menjabat sebagai Senior Manager di Mees Pierson Finas Investment Management, dan tahun 1996 sampai 1998 menjadi President Director BII Lend Lease Investment Services. Tahun 1999 sampai 2002 menjabat sebagai Group Head di Indonesian Bank Restructuring Agency kemudian menjadi President Director di PT PNM Investment Management sejak tahun 2003 sampai 2006.
Saat ini memiliki lisensi manajer investasi dari Bapepam (No. KEP-38/PM-PI/ 1993).

Firmansjah
Direktur Sumber Daya Manusia & Umum

Lahir pada tanggal 08 September
1955, bergabung dengan Jasa Marga tahun 1983. Sebelumnya menjabat sebagai Kepala SPI Jasa Marga (2006-2008), Ketua Dewan Pengawas Dana Pensiun Jasa Marga (2002-2007), Kepala Divisi Pengembangan SDM (2001-2006), Kepala Biro SDM (2001), Komisaris Utama PT Sarana Marga Bhakti Utama (1999-2009), Pimpinan Proyek P3T Wilayah Cirebon dan sekitarnya (1997-1998), Kepala Cabang Jakarta-Cikampek (1994 - 1995), Kepala Sub Divisi Pengendalian Pelaksanaan Pemeliharaan (1989-1992), Kepala Bagian Pemeliharaan Jakarta-Merak (1984-1988) dan Kepala Bagian Analisa Kebutuhan Divisi Perlengkapan (1983-1984). Menyelesaikan S1 di Fakultas Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan S2 Teknik Transportasi dari ENTPE di Lyon, Perancis.